Selasa, 26 Maret 2013

Lima Alasan Menonton "The Croods"

Lima Alasan Menonton "The Croods" - Jarang sekali film animasi untuk keluarga dikemas sebagai sebuah film perjalanan. Namun, film nomor satu di daftar box-office minggu ini, "The Croods" (2013), membuktikan bahwa film perjalanan bukan hanya monopoli manusia modern. Hanya dengan bermodalkan jalan kaki, keluarga manusia prasejarah ini pun mengarungi hutan liar, sungai, juga pegunungan yang menyimpan bahaya supaya dapat selamat sampai ke tempat tujuan. Meski punya plot yang sangat sederhana dan susunan konflik yang berputar-putar, film ini tetap menjadi pilihan tepat untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga di akhir pekan nanti. Selain itu, apa lagi yang menarik dari film produksi DreamWorks Animation ini? Berikut adalah lima alasan untuk menonton film "The Croods".

1. Visualisasi Cantik

Butuh sedikit imajinasi ekstra untuk mewujudkan dunia prasejarah dalam sebuah film animasi. Contoh paling dekat dari film dengan latar mirip "The Croods" tentu saja adalah film-film dari franchise "Ice Age". Tetapi, selain menampilkan hewan dan manusia prasejarah yang hidup dalam dunia yang terus-menerus berubah secara cepat, kemiripan yang ada antara dua film ini hanya sampai di situ saja. "The Croods" sendiri mencoba untuk hadir dengan desain yang sedikit lebih radikal.

Palet warna yang digunakan untuk menggambarkan penampilan keluarga Croods memang tak mencolok. Tetapi, tempat di mana mereka tinggal merupakan dunia yang sangat berwarna. Dari daerah pegunungan yang berbatu-batu dan gersang, kita dibawa masuk ke rimba penuh warna yang dipenuhi tanaman-tanaman dan hewan-hewan dengan desain unik. Baik di darat, laut, maupun udara, dunia keluarga Croods dirancang dengan warna-warna yang spektakuler dan begitu kontras. Visualisasi yang cantik ini juga terlihat lebih megah di bioskop. Yang menarik, apakah Anda sadar bahwa Roger Deakins—sinematografer legendaris pembuat film "Skyfall"—merupakan konsultan visual dari film ini?

2. Adegan Aksi

Dengan pengalaman membuat film-film seperti "Kung Fu Panda" (2008), "How to Train Your Dragon" (2010), sampai "Puss in Boots" (2011), DreamWorks Animation sudah membuktikan bahwa mereka tahu bagaimana caranya menangani set piece aksi yang mendebarkan. Hal-hal sederhana seperti berburu untuk mencari makan atau menyelamatkan diri dari hewan ganas punya eksekusi yang lumayan dan memberi keasyikan menonton tersendiri, terutama bagi anak-anak yang senang dengan adegan-adegan seru.

3. Desain Makhluk Prasejarah

Bila Anda biasa menonton tampilan hewan prasejarah yang bentuknya itu-itu saja, "The Croods" akan terasa sangat berbeda. Para pembuat filmnya memang sengaja mendobrak aturan baku yang telah ada dan bereksperimen dengan tampilan hewan-hewan ini. Tentu saja, meski beberapa hewan yang dihasilkan terlihat aneh, kita masih dapat mengenali jenis-jenis satwa seperti apa yang ingin digambarkan duo sutradaranya, Kirk De Micco dan Chris Sanders.

Contohnya, seperti Mousephants berbulu berukuran kecil yang merupakan gabungan dari tikus dan gajah. Selain itu ada juga Bear Owl yang suka tidur di siang hari dan tentu saja merupakan gabungan dari burung hantu dan beruang. Tak hanya dari segi bentuk, warna-warna yang digunakan pada hewan-hewan ini juga tidak menggunakan palet warna tradisional. Jadi jangan heran bila Anda melihat hewan dengan warna-warna tidak normal seperti biru, hijau, atau merah muda yang menyolok.

4. Pengisi Suara

Film animasi produksi DreamWorks Animation biasanya wajib menghadirkan pengisi suara dari bintang-bintang film terkenal. Tapi, kali ini deretan pengisi suara "The Croods" terasa sedikit lebih unik. Tentu saja, film ini masih menampilkan nama-nama terkenal. Ada Emma Stone yang mengisi suara Eep si gadis yang haus kebebasan. Ada juga Ryan Reynolds yang mengisi suara Guy si manusia purba cerdas. Seperti yang sudah diharapkan, suara mereka yang khas berhasil memberi nyawa pada dua karakter ini meski masih dalam batas yang familiar.

Selain keduanya, masih ada juga Cloris Leachman yang sangat cocok mengisi suara Gran si nenek kocak yang tak akur dengan menantunya. Yang cukup mengejutkan tentu saja adalah kehadiran Nicolas Cage yang mengisi suara sang ayah, Grug. Cage yang terkenal sebagai racun box-office adalah sosok yang mungkin tak Anda sangka akan muncul di film animasi mahal seperti ini. Tapi, kehadiran Cage kali ini ternyata sama sekali tidak merusak filmnya. Setelah Anda mendengar suara Cage yang keluar dari sosok Grug yang gempal dan lebih cocok bersuara dalam, lama-lama Anda akan terbiasa dengan hal ini dan tidak merasa aneh saat sang aktor berusaha untuk melucu atau berubah menjadi sangat konyol demi menghidupkan karakter ayah yang penuh dengan kegelisahan ini.

5. 3D

Tampilan 3D film "The Croods" layak untuk disaksikan di bioskop. Dengan format ini, kita dapat menyaksikan dunia ciptaan De Micco dan Sanders menjadi lebih nyata dalam setiap lapisannya. Elemen-elemen seperti butiran abu, bara api, cipratan air, serta benda-benda lain yang beterbangan di layar juga memperkuat aspek 3D-nya, sehingga apa yang dapat kita lihat di dalam dan di luar layar terlihat sama-sama hidup.

Dengan durasi hanya 98 menit, melihat film ini dalam format 3D juga tidak terasa begitu melelahkan atau membuat pusing. Bila sudah tenggelam dalam visualisasinya yang cantik dan begitu kaya warna, Anda akan lupa kalau sedang mengenakan kacamata 3D.


Judul: The Croods
Sutradara: Kirk De Micco, Chris Sanders
Penulis Naskah: Chris Sanders, Kirk De Micco
Pengisi Suara: Nicolas Cage (Grug), Emma Stone (Eep), Ryan Reynolds (Guy), Catherine Keener (Ugga), Cloris Leachman (Gran), Clark Duke (Thunk), Chris Sanders (Belt), Randy Thom (Sandy)
Rating: PG
Durasi: 98 menit
Produksi: DreamWorks Animation

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar